PERJUANGAN MENJADI SEORANG FREELANCER GRAPHIC DESIGNER DI BALI
FREELANCER
Freelancer bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang
membahagiakan. Pekerjaan ini memberikan keleluasaan bagi seseorang untuk mengembangkan
keterampilan, kreativitas, dan pengetahuan yang dimiliki terutama pada bidang-bidang
yang disukai. Namun sebelum menekuni pekerjaan semacam ini diperlukan adanya
tekad untuk belajar dan kesiapan dalam menghadapi tekanan social.
͞
DEYASA, merupakan pria kelahiran bali tahun 1989 yang menjalani
pekerjaan sehari-harinya sebagai seorang illustrator.
Di ruang kerja berukuran 3x3 dengan berbagai peralatan desain digital seperti
pen tablet, personal computer, dan laptop
turut menemani kesehariannya. Dalam ruangan tersebut pula terdapat berbagai
daftar mimpi yang diharapkannya sampai berbagai macam pencapaian yang telah
dilewatinya.
Kondisi ruang
kerja Deyasa. (DEANGGA HITAYANA/GAGA POS)
Deyasa pernah dimuat dalam berita yang dipublikasikan oleh situs Vecteezy sebagai illustrator berbakat asal Bali. Karyanya pun telah banyak dibeli oleh pengguna pada situs tersebut.
Keterampilan menggambar
yang dimilikinya sudah diasah sejak kecil, menurutnya berawal dari senang
memperhatikan objek-objek yang ada disekitarnya dan kemudian menuangkannya ke
sebuah buku gambar. Selain itu kegemarannya menonton film kartun dan membaca
komik Dragonball turut memperluas inspirasinya dalam menggambar karakter. “Dulu
itu pas kecil aku sering gambaranin tokoh Goku Dragonball. Hasil gambarnya aku
simpan dalam satu buku gambar, tapi ada juga yang tak kasi ke saudara-saudara
buat ditempel di kamarnya,” jelasnya.
Ketertarikan terhadap dunia desain digital terjadi saat ia melihat adanya berbagai macam produk-produk band seperti kaos band dengan gambar yang bagus. Kemudian ia mulai memikirkan bagaimana cara menuangkan desain-desain yang dimilikinya ke dalam bentuk digital. Sejak saat itu ia mulai mempelajari aplikasi-aplikasi seperti Photoshop, AI, dan Corel secara otodidak. Pengetahuan tersebut diperolehnya melalui buku panduan aplikasi dan berbagai website di internet.
Untuk mengeksplorasi
ide-ide desain, cara sederhana yang biasa digunakannya adalah membayangan tema
atau objek utama terlebih dahulu. Kemudian dari objek pertama tersebut
dikembangkan objek kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga akhirnya dari
objek-objek yang ada tersebut dihubungkan untuk membentuk suatu sketsa yang
utuh. Kemudian dari sketsa tersebut disempurnakan dengan proses lining, coloring, hingga finishing. Selain
cara tersebut, ia juga menggunakan metode riset sederhana untuk membuat
gambaran desain yang menarik dan terjangkau oleh pasar. Biasanya riset
sederhana ini ditulisnya dengan beberapa bagian, seperti apa ciri khas
perusahaan, siapa target pasar, hingga siapa saja kompetitor perusahaan pelanggannya.
Gaya desain dan karakteristik desainnya yang unik pun menjadi daya tarik tersendiri terhadap para pelanggannya. “Desainku menggunakan garis-garis yang jelas dan detail shading yang tidak terlalu padat untuk menghasilkan garis-garis yang rapi. Aku biasanya memilih warna-warna lembut dan gradasi pewarnaan yang unik. Karyaku bisa dinikmati semua umur dan mencakup semua genre, jadi siapa saja bisa menikmatinya,” jelasnya.
Proses desain yang dilakukan oleh Deyasa. (DEANGGA HITAYANA/GAGA POS)
Mencari pasar atau pelanggan dalam pekerjaan ini sangatlah penting dan hasil dari pesanan pertamalah yang nantinya akan menentukan apakah pelanggan tersebut akan datang kembali atau tidak. Oleh karenanya ia selalu memaksimalkan setiap pekerjaan yang diambil agar adanya kepuasaan terhadap para pelanggan dengan harapan pelanggan tersebut akan datang kembali untuk menyewa jasanya.
Hasil desain yang telah dibuatnya dijual ke beberapa platform yang berada pada naungan besar perusahaan Microstock. Beberapa agensi yang menjadi target penjualannya yaitu Freepik, AdobeStock, Shutterstock, dan Vector Stock.
Adapun pundi-pundi uang
yang diterimanya berkisar antara 25-30 juta setiap bulannya melalui pembayaran royalti
dari agensi-agensi microstock, desain produk brand local dan internasional,
hingga desain event dari
pelanggannya.
Sebelum ia memfokuskan
dirinya untuk bekerja sebagai illustrator,
Ia pernah bekerja sebagai staff kantor di salah satu toko besar yang ada di
Bali. Mula-mulanya ia hanya menjadikan
pekerjaan desain ini sebagai sampingan semata, namun seiring berkembangnya
waktu dan berbagai peluang yang datang akhirnya ia memutuskan untuk focus terhadap
pekerjaan sampingannya tersebut. Berbagai macam brand local dan nasional pun
pernah menyewa jasanya. “Perjalanannya panjang ya sebenernya, tapi akhirnya
sekarang udah megang brand-brand besar di Bali. Selain brand local, ada juga
brand luar negeri asal italia dan amerika yang sudah jadi langganan,” ucap
Pramayasa.
Selain menjadi seorang illustrator, ia juga merupakan seorang kepala keluarga di keluarga kecilnya. Ia memiliki putra dan putri yang masih berusia dibawah sepuluh tahun. Sebelum ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tetapnya sebagai seorang staff kantor di salah satu toko, tentu saja ini merupakan pilihan yang sangat sulit baginya. Karena meninggalkan penghasilan tetap untuk beralih memfokuskan diri terhadap pekerjaan sampingan adalah pilihan yang cukup beresiko. Apalagi ia harus terus memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya keperluan anak-anaknya.
Berkat dukungan dan dorongan dari orang-orang terdekat terutama istrinya, ia bertekad untuk meninggalkan pekerjaan tetapnya dan memulai mimpinya sebagai seorang freelancer desain grafis yang sukses. Meskipun ketika diawal merintis pekerjaannya tersebut, ia pernah merasakan tidak mendapatkan klien ataupun pekerjaan selama 1 sampai 2 bulan. Tetapi berkat usahanya yang gigih untuk mencari pasar melalui social media dan memanfaatkan situs microstock membuatnya bertahan dan perlahan satu persatu mimpinya mulai terwujud hingga saat ini.
Berbicara mengenai klien atau pelanggan, menurutnya tidak semua klien atau pelanggan itu bisa dipercaya karena watak setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang wataknya jujur dan ada juga yang tidak, ada orang yang memiliki tanggung jawab dan ada juga yang tidak. Hingga kini, ia pun masih beberapa kali mengalami kejadian yang tidak mengenakan dari pelanggannya. Beberapa hal seperti ada klien yang memintanya merevisi berulang kali dan akhirnya membatalkan pesanan, ada pula klien yang hilang tiba-tiba meskipun desain yang dikerjakan sudah selesai.
Ia tidak terlalu ambil pusing terhadap klien atau pelanggan yang seperti itu. Meskipun dengan rasa sedikit kecewa, itu tidak meruntuhkan semangatnya untuk tetap memberikan karya-karya yang berkualitas terhadap para pelanggannya. Karya-karya yang sudah dibuat namun ditinggalkan pemesan ia tawarkan kembali kepada pelanggan lainnya, dan ada juga beberapa yang ia publikasikan di situs-situs microstock.
Selain permasalahan-permsalahan umum terhadap pelanggan, image sebagai seorang illustrator atau freelancer juga berdampak pada lingkungan sosialnya. Menurutnya banyak masyarakat Bali terutama lingkungannya yang masih menutup mata terhadap pekerjaan seperti ini. Karena kesehariannya bekerja selalu dilakukan dirumah, banyak orang di lingkungannya yang menganggap kalau ia adalah seorang pengangguran. “Pernah dulu sampai ada orang yang nawarin aku pekerjaan ini itu, bahkan tetangga dan keluarga jauh pun pernah. Kalau dihitung-hitung sih, penghasilanku jauh 10 kali lipat dari yang mereka-mereka tawarkan,” pungkasnya sembari tertawa.
Ia berpesan bahwa
janganlah takut, malu, ataupun mudah putus asa terhadap setiap hal yang diyakini
dan dipercayai. “Meskipun seseorang menindas pekerjaan dan profesi kita sebagai
illustrator, tapi kalau kita fokus dan
yakin sama apa yang kita lakuin kita pasti bisa mencapai impian itu. Jangan
pula melupakan orang-orang yang telah membantu kita. Karena orang yang lupa
berterimakasih kepada orang lain yang telah membantunya, maka ia tidak akan
pernah sukses,” tutupnya.
Penulis: I Komang Gede Hitayana Anggasemara (Mahasiswa Komunikasi
Universitas Pertamina).
Dosen Pengampu: Melisa Indriana Putri, S.Ikom, M.I.Kom


Komentar
Posting Komentar